Nobar “Menolak Punah” Greenfinity, Anak-anak Antusias
8 Juni 2026

Nobar “Menolak Punah” Greenfinity, Anak-anak Antusias

Nobar film dokumenter "Menolak Punah" mengawali rangkaian acara Bazaar Hijau, implementasi ekonomi sirkular di lingkup RW dan salah satu upaya pencegahan limbah tekstil.

Mengawali rangkaian acara Bazaar Hijau, Greenfinity menggelar acara nonton bareng (nobar) film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dan Aji Yahuti yang bertajuk “Menolak Punah”. Nobar digelar di lapangan Taman Aster RW 08 Kelurahan Gebang Raya, Kota Tangerang, pada Jumat (5/6) malam lalu.

Ketua Greenfinity, Rahmat Hidayat, mengatakan bahwa Bazaar Hijau merupakan implementasi dari ekonomi sirkular dalam lingkup RW yang kegiatannya mencakup bazaar barang bekas layak pakai, gerai UMKM warga, dan pengenalan kepada masyarakat yang lebih luas tentang gerakan Greenfinity. “Rencana awalnya, kami mau jual sayuran hasil panen kebun kami, tapi karena sempat diundur dan terjeda Idul Adha, jadinya sayuran kami sudah lebih dulu dipanen,” ujarnya.

.

Gagasan awal Bazaar Hijau mulanya didasari atas keresahan warga terkait banyaknya pakaian bekas layak pakai yang tidak tahu harus mereka salurkan ke mana. “Banyak nasabah tanya, apakah bank sampah kami terima pakaian, sepatu, dan tas bekas. Tentu saja tidak, haha…” kata Ken Andari, Ketua Bank Sampah RW 08 yang juga tergabung dalam giat Greenfinity. Di saat yang sama, Ekspedisi Indonesia Baru @idbaruid menggelar musim nobar film dokumenter “Menolak Punah” yang membahas krisis limbah tekstil dan krisis bahan baku tekstil yang ramah lingkungan, serta bagaimana sejumlah kelompok masyarakat berupaya mengatasinya.  

.

Dihadiri oleh 101 penonton, yang uniknya, sebagian besar merupakan anak-anak dan remaja. “Jujur, saya baru sadar banget kalau tanaman kapas yang ada di lambang negara, itu ternyata kita impor. Bahkan pakaian bekas aja kita impor,” kata Geovan (15) salah satu remaja relawan Greenfinity. “Aku baru tau bahwa pakaian itu harusnya terbuat dari bahan alami. Bahkan aku baru lihat tadi, bunga kapas itu seperti apa. Aku jadi ingin bisa menenun,” kata Vina (12), yang tidak beranjak dari awal sampai akhir pemutaran film. “Yang aku lihat justru ada orang-orang yang beli pakaian terus, tapi ada orang lain yang miskin sampai gak bisa beli pakaian,” tukas Rafa (10), menyoroti sesuatu yang disebut “ketimpangan sosial”.

.

Para tokoh masyarakat dan bank sampah lain juga turut hadir dan memberikan apresiasi bagi Greenfinity. “Apresiasi kepada panitia, menggelar acara seperti ini tapi penontonnya sebagian besar anak-anak, generasi muda. Saya kira ini sesuatu yang baru, dan patut dilanjutkan. Mereka terlihat wara-wiri, tapi mendengarkan komentar mereka, kita tahu mereka menyimak dan semoga tergugah,” tutur Sutono, Ketua Kampung Proklim RW 07. “Pokoknya saya dukung, acara-acara seperti ini harus digiatkan, dan harus melibatkan generasi muda, pendapat dan keterlibatan mereka,” ujar Rini, Kasi Ekbang Kelurahan Gebang Raya. Nobar ini gratis, namun penyelenggara mengajak penonton untuk memberikan apresiasi terhadap film-maker yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memproduksi film ini. Di akhir acara, kotak apresiasi yang dikelilingkan ke penonton dibuka, dan terkumpul Rp225.000 yang akan ditransfer langsung untuk tim Ekspedisi Indonesia Baru.

.

Nobar “Menolak Punah” sekaligus membuka rangkaian Bazaar Hijau Greenfinity yang akan dilanjutkan pada Sabtu-Minggu, 6-7 Juni 2026 dengan gelaran bazaar barang preloved layak pakai, UMKM, serta edukasi pengenalan gerakan Greenfinity kepada masyarakat luas.